KONTROVERSI TOKOH SANG RATU SANJAYA RAKAI MATARAM DAN SRI MAHARAJA RAKAI PANANGKARAN

Kontroversi Tokoh Sang Ratu Sanjaya Rakai Mataram
Dan Sri Maharaja Rakai Panangkaran
Oleh, Aditya W. Wardhana, S.Pd.


“…wie es eigentlich gewesen: Kita harus menerangkan masa lalu
seperti apa yang terjadi.”

- Leopold von Ranke, Sejarawan Jerman (1795-1886) -
A. Pengantar
Pada awalnya tulisan ini merupakan inquiry dari penulis untuk kajian Sejarah Indonesia Kuno, yang dikembangkan menjadi sebuah karya ilmiah dalam bentuk skripsi di Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS-UPI Bandung. Penulis berpandangan, Sejarah Jawa Tengah memiliki kaitan yang sangat erat dengan perkembangan yang terjadi di Tatar Sunda pada masa lalunya. Suatu kurun masa sejarah akan tampak utuh bila kita mengkaitkan sejarah kedua daerah tersebut.
Kurun masa sejarah yang dimaksud adalah sejarah masa awal dari kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah yang memiliki kaitan sangat erat dengan perkembangan yang terjadi pada kerajaan Galuh di daerah Ciamis, Jawa Barat. Penelusuran jati diri dua tokoh penting, yaitu Sanjaya dan Panangkaran akan menjadi pokok bahasan dalam tulisan ini. Semua itu dilakukan dengan harapan terciptanya pemahaman sejarah yang utuh tentang kaitan masa awal dari kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah dengan Kerajaan Galuh.
Atas dasar metodologi penelitian sejarah yang mencakup: (1) pemilihan topik, (2) pengumpulan sumber, (3) verifikasi (kritik sejarah, keabsahan sumber), (4) interpretasi: analisis dan sintesis, dan (5) penulisan, maka penulis mencoba untuk meneliti kembali jati diri kedua tokoh kontroversial tersebut. Hubungan antara fakta dengan sejarawan yang tidak akan pernah berakhir dan setaraf, juga menjadi dasar pijakan bagi penulisan karya ini.[1]




[1]  Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta, 2005, hal. 90., Metodologi Sejarah, 2003, hal. 4. ; Helius Sjamsuddin, Metodologi Sejarah, Yogyakarta, 2007, hal. 24.

B. Prasasti Sebagai Sumber Primer dan Pendapat Para Ahli
Pertama kalinya, dalam sejarah kuno Indonesia kita mengenal adanya seorang raja besar yang sangat terkenal dalam pembahasan Sejarah Mataram Hindu yang tercantum dalam Prasasti Canggal. Ialah Sang Ratu Sanjaya Rakai Mataram, namun permasalahan selalu muncul tentang sosok pendiri kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah ini, yaitu menyangkut asal-usul dirinya yang masih banyak menimbulkan pro dan kontra dikalangan para ahli. Siapakah sebenarnya Raja Sanjaya?
Tulisan ini akan dimulai dengan Prasasti Canggal[1] yang ditemukan pada halaman percandian diatas Gunung Wukir di Kecamatan Salam (Magelang). Prasasti ini menggunakan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta, berangka tahun 654 Saka (6 Oktober 732). Prasasti ini berhasil dibaca oleh H. Kern pada tahun 1885. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya. Adapun isinya terdiri dari 12 pada yaitu:
Pada 1             Menguraikan pembangunan lingga oleh Raja Sanjaya diatas gunung.
Pada 2-4         Memuat pujaan kepada dewa Siwa.
Pada 5             Memuat pujaan terhadap dewa Brahma.
Pada 6             Memuat pujaan terhadap dewa Wishnu.
Pada 7             Menguraikan Pulau Jawa yang sangat subur, kaya akan tambang emas, dan banyak menghasilkan tanaman padi. Di Pulau itu didirikan candi Siwa demi kebahagiaan penduduk, berasal dari Kunjarakunjadesa.
Pada 8-9         Menguraikan bahwa Pulau Jawa diperintah oleh Raja Sanna, yang sangat bijaksana, adil dalam tindakannya, perwira dalam peperangan, bermurah hati  kepada bawahannya (rakyat). Ketika Raja Sanna wafat, negara berkabung, sedih karena kehilangan pelindung.
Pada 10-11     Menguraikan pengganti Raja Sanna, yaitu Sanjaya anak Sannaha.
Pada 12           Menguraikan kesejahteraan, keamanan, dan ketenteraman negara. Rakyat dapat tidur di tengah jalan, tidak usah takut akan pencuri dan penyamun atau kejahatan lainnya. Rakyat hidup serba tenang. 

Prasasti Canggal ini disambut hangat oleh Moens dengan pendapatnya, bahwa nama Yava, Yavadvipa (Iabadiou), dan Ch’o-po mula-mula dipakai untuk menyebut Semenanjung Malaya. Nenek moyang Rakai Sanjaya berpindah dari Kunjarakunjadesa di India Selatan ke Kedah. Pada tahun 724/8, Sanjaya terdesak oleh Sriwijaya; lari ke Jawa Tengah. Di Pulau Jawa, Sanjaya mendirikan kerajaan baru.
Pada tahun 732 Masehi, Sanjaya mendirikan lingga diatas Gunung Wukir. Pada Prasasti Canggal disebut adanya candi Siwa yang didirikan di tempat yang bernama Kunjarakunjadesa. Menurut Moens, nama Java (Javakya) pada Piagam Canggal adalah nama pindahan Yavadwipa sebagai nama Semenanjung Malaya, negara nenek moyangnya.[2]
            Pada tahun 907 Masehi, dibuatlah Prasasti Kedu (Mantyasih)[3] oleh Raja Balitung untuk mengenang para leluhurnya. Prasasti ini menyebut delapan orang raja yang pernah memerintah Medang di Wilayah Pohpitu. Kedelapan raja itu bergelar Sri Maharaja, kecuali Sanjaya yang bergelar Sang Ratu. Prasasti ini berhasil dibaca dan diterbitkan oleh Stutterheim pada tahun 1927. Adapun daftar nama-nama raja itu adalah sebagai berikut:
1.      Sang Ratu Sanjaya rakai Mataram
2.      Sri Maharaja rakai Panangkaran
3.      Sri Maharaja rakai Panunggalan
4.      Sri Maharaja rakai Warak
5.      Sri Maharaja rakai Garung
6.      Sri Maharaja rakai Pikatan
7.      Sri Maharaja rakai Kayuwangi
8.      Sri Maharaja rakai Watuhumalang.

Jika kita memperhatikan piagam lainnya yang terdapat di Gata (Piagam Gata) dan Taji Gunung (Piagam Taji Gunung) keduanya dekat Prambanan, kedua piagam itu menggunakan perhitungan tahun Sanjaya (Sanjayawarsa), masing-masing bertarikh tahun 693 dan 694 Saka, atau tahun Masehi 771 dan 772. Pada Piagam Gata, tertulis:…cri maharaja daksottamabahubajrapratipaksaksaya cri…nggawijaya, tumurun i rakryan mapatih halu, sirikan, muang.
Prasasti Taji Gunung tidak menyebut nama raja, hanya menyebut mahamantri rakryan Gurunwangi. Benar, pada prasasti itu disebut Sri Sanjaya naranata, tetapi didahului dengan kata nguni: “dahulu”. Pada waktu itu, Raja Sanjaya sudah wafat. Karena selisih waktu hanya satu tahun saja dengan Prasasti Gata, maka boleh dipastikan bahwa raja yang memerintah sama dengan raja yang mengeluarkan Prasasti Gata. Lagi pula, baik Prasasti Gata maupun Prasasti Taji Gunung menggunakan Sanjayawarsa.[4]
Sementara itu, ditemukan juga Prasasti Kalasan[5] dekat Prambanan, ditulis dalam bahasa Sansekerta dengan huruf  Pra-Nagari, bertarikh tahun Saka 700 atau 778 Masehi. Untuk pertama kalinya prasasti tersebut diterbitkan oleh Dr. Brandes pada tahun 1886 dalam T.B.G. 31 hal. 240-260. Pada tahun 1928, diterbitkan lagi oleh Bosch dalam T.B.G. 68 hal. 57-62. Berikut ini adalah terjemahan Prasasti Kalasan:
Pada 1: doa dan salam kepada Arya Tara, mudah-mudahan para pemujanya dapat mencapai tujuannya.
Pada 2-3: para guru Sailendra mohon kepada maharaja Dyah Pancapana Panangkarana agar beliau membangun candi Tara. Permohonan para guru itu ialah agar dibangunlah arca dewi Tara, candinya, dan beberapa rumah untuk para pendeta yang fasih akan pengetahuan Mahayana Winaya.
Pada 4-6: para pangkur, tawan, tirip menerima perintah untuk membuat candi Tara dan perumahan para pendeta. Candi Tara didirikan di daerah makmur sang raja, yang menjadi hiasan rajakula Sailendra untuk kepentingan para guru raja Sailendra. Pada tahun Saka 700, maharaja Panangkaran selesai membangun candi Tara, tempat para guru melakukan persembahan.
Pada 7-9: desa Kalasan dihadiahkan. Para pangkur, tawan, dan tirip, adyaksa desa dan para pembesar menjadi saksi. Tanah yang dihadiahkan oleh sang raja supaya dijaga baik-baik oleh para keturunan wangsa Sailendra, oleh para pangkur, para tawan dan tirip, serta para pembesar yang bijak turun-temurun. Selanjutnya, sang raja berulang kali minta kepada semua raja yang akan memerintah kemudian agar candi itu selama-lamanya dijaga untuk kebahagian semua orang.
Pada 11-12: berkat pembangunan wihara itu, diharapkan semoga memperoleh pengetahuan tentang kelahiran, memperoleh tibavopapanna dan mengikuti ajaran Cina. Yang mulia kariyana (rakryan) Panangkaran mengulangi lagi permintaan beliau kepada semua raja, yang akan menyusul untuk membina wihara itu dalam keadaan yang sesempurna-sempurnanya.

Terbitnya Prasasti Kalasan oleh Bosch mengundang banyak perhatian. Sejak tahun 1919 Prof. Ph. Vogel dalam artikelnya, Het Koninkrijk Criwijaya (B.K.I. 75 hal. 614), telah menyarankan agar memisahkan raja Sailendra (Cailednraraja) dengan Rakai Panangkaran. Begitu pula dengan Bosch, ia mengira bahwa Cailendraraja dan Rakai Panangkaran adalah raja Sriwijaya dan termasuk rajakula Sailendra.[6]
Pada tahun 1947, Dr. van Naerssen mengatakan bahwa ada dua raja pada prasasti tersebut. Yang satu raja Sailendra yang tidak disebut namanya (dalam kata majemuk Cailendrarajaguru); yang satu lagi ialah Maharaja Dyah Pancapana Panangkaran. Artikel van Naerssen termuat dalam India Antiqua hal. 249-253. Van Naerssen beranggapan bahwa Maharaja Dyah Pancapana Panangkaran adalah raja bawahan raja Sailendra yang tidak disebut namanya itu. Raja Sailendra yang tidak disebut namanya itu datang dari seberang lautan dan menguasai kerajaan Rakai Panangkaran. Beliau pemeluk agama Buddha.[7]
Pandangan F.H.N. van Naerssen ini kemudian diikuti oleh De Casparis dalam bukunya yang berjudul Prasasti Indonesia I dan Bosch dalam karangannya yang berjudul Criwijaya, de Cailendra en de Sanjayawamca. Mereka semua berpendapat bahwa Raja Dyah Pancapana Panangkaran adalah raja bawahan raja Sailendra.[8]
Segera timbul pertanyaan: Jika Rakai Panangkaran adalah raja bawahan raja Sailendra, mengapa para guru Sailendra minta kepada Rakai Panangkaran untuk membangun candi Tara beserta wiharanya, mengapa tidak langsung minta kepada raja Sailendra yang lebih berkuasa? Permintaan para guru raja Sailendra itu justru membuktikan bahwa Rakai Panangkaran berkuasa atas daerahnya. Permintaan itu merupakan manifestasi pengakuan para guru Sailendra terhadap kekuasaan Rakai Panangkaran. Terlebih lagi, Panangkaran bergelar “maharaja”, dan gelar maharaja tidaklah mungkin sebagai raja bawahan. Maha berarti tinggi, dalam hal ini yang ditinggikan derajatnya, yaitu sebagai raja atau penguasa  tertinggi.[9]
Slamet Mulyana mengatakan bahwa pembangunan Candi Kalasan selesai pada tahun 778 M. Dibangun atas perintah Raja Pancapana Panangkaran, keturunan raja Sailendra dan beragama Buddha. Dari perbandingan piagam-piagam diatas dapat disimpulkan bahwa Raja Daksottamabahubajra keturunan Raja Sanjaya, berhasil ditundukan oleh Dyah Pancapana Panangkaran antara tahun Masehi 772 dan 778, dan menjadi raja bawahan Raja Panangkaran dari wangsa Sailendra itu.
Sanjayawarsa diganti oleh Buddha Mahayana yang dianut oleh Sailendrawangsa. Slamet Mulyana meyakini bahwa Dyah Pancapana Panangkaran bukan keturunan Sanjaya. Ia adalah raja Sailendra pertama Mataram Hindu di Jawa Tengah. Menurutnya, andaikata beliau keturunan Raja Sanjaya, pasti beliau juga akan menggunakan perhitungan tahun Sanjaya seperti nyata dalam Piagam Gata dan Taji Gunung.[10]  




[1]   H. Kern: VG., VII, hal. 115-128. De Sanskrit-Inscriptie Van Canggal (Kedu), uit 654 Saka dalam Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia Jilid II, Jakarta, 1993, hal. 98,99. Lihat juga Slamet Mulyana: Sriwijaya, Yogyakarta, 2005,hal. 182,183.
[2]   Ibid., Slamet Mulyana, 2005,  hal. 11,12.
[3]   Ibid., hal. 179,180. 
[4]  Ibid., hal. 184,185.
[5]  Ibid., hal. 185,186.
[6]  Ibid., hal. 187.
[7]   Ibid.
[8]   Ibid.
[9]  Ibid.
[10]  Ibid., hal. 18.

Naskah Sebagai Sumber Sekunder
Selain sumber primer berupa prasasti, masih ada dua sumber lainnya berupa naskah dalam usaha menelusuri jati diri tokoh Sanjaya dan Panangkaran. Naskah pertama adalah Carita Parahiyangan, yang cukup panjang lebar menceritakan tentang sejarah Mataram Hindu. Carita Parahiyangan sesungguhnya lebih banyak bercerita tentang sejarah tanah Pasundan, yaitu menceritakan Kerajaan Galuh di daerah Ciamis.
Perlu untuk diketahui bahwa bagian akhir dari Carita Parahiyangan, melukiskan tentang keruntuhan Kerajaan Pajajaran sebagai akibat serangan Islam yang mulai menyebar dan berkembang di Jawa Barat. Menurut perkiraan, naskah kuno tersebut ditulis pada akhir abad ke-16 Masehi.[1]
Bagian awal juga bagian tengah kitab itu, mungkin sekali ditulis dan disusun berdasarkan atas cerita tradisi yang hidup di kalangan penduduk, dan disampaikan dari mulut ke mulut atau mungkin juga dikutip dari bahan-bahan tulisan yang tidak sampai kepada kita. Dalam kitab tersebut, dikemukakan para tokoh yang dianggap sebagai leluhur raja-raja Galuh.
 Walaupun secara kronologis sukar untuk diurutkan, sebab tidak disebutkan angka tahun pemerintahannya. Namun yang  menarik perhatian adalah ternyata dalam Kitab Carita Parahiyangan  disebut-sebutnya  sebuah nama yang juga terdapat dalam Prasasti Canggal dan Mantyasih, yaitu Raja Sanjaya.
Dalam Prasasti Canggal, dikemukakan sedikit tentang keluarga Sanjaya, yaitu ia sebagai putra Sannaha. Orang yang disebut belakangan itu tentu ibunya, yang dikatakan bersaudara dengan Raja Sanna. Yang lebih menarik perhatian lagi adalah dalam Kitab Carita Parahiyangan juga disebutkan, bahwa Sanjaya adalah putra Raja Sena, yang pernah dibuang ke Gunung Merapi.
Dari persamaan dan kemiripan diantara kedua sumber pemberitaan itu, lalu timbulah pendapat yang menghubungkan, bahwa nama Sanjaya dalam Carita Parahiyangan, yang disebut-sebut sebagai raja Galuh adalah tokoh yang sama dalam Prasasti Canggal. Demikian juga nama Sena diidentikan dengan Sanna dan Gunung Merapi disamakan dengan Gunung Merapi dekat Gunung Sumbing di Jawa Tengah[2].
Dari informasi lain, Gunung Merapi itu disamakan dengan Bukit Merapi yang terletak di daerah Kuningan, yakni di Jawa Barat sendiri. Mungkin persamaan ini yang lebih cocok dengan lokasi Carita Parahiyangan, akan tetapi masih harus diperjelas latar belakang kemungkinannya. Mungkin perkiraan yang berikut ini akan lebih cerah kebenarannya.[3]
Gunung Merapi yang dianggap sebagai tempat pembuangan atau pengungsian Raja Sena sehingga orang ini mendapat turunan yang bernama Sanjaya, ialah gunung yang sampai sekarang dikenal dengan nama Gunung Ciremai. Di daerah lereng Gunung Ciremai-lah Sena disingkirkan. Di lereng Gunung Ciremai sebelah Tenggara terdapat sebuah bukit yang disebut Sanghiang Comot.
Di bukit ini terdapat petilasan berupa fragmen batu-batu yang merupakan pecahan lingga, yoni, nandi dan batu-batu ceper lainnya. Jelas sekali petilasan bangunan pemujaan agama Siwa. Kemungkinan besar, petilasan ini bekas bangunan candi yang sebagian bahannya dibangun dari kayu atau bambu.
Nama Ciremai mungkin pada saat Sena dibuang belum dikenal. Gunung tersebut pada waktu itu lebih dikenal karena keadaan fisiknya sebagai suatu gunung berapi. Sampai pada permulaan abad ke-19 Masehi, Gunung Ciremai masih menunjukan keaktifannya sebagai gunung berapi. Hal ini dinyatakan dalam pemberitaan geologis, bahwa pada tahun 1772 dan 1805 Masehi[4], gunung tersebut pernah meletus.
Kenyataan ini menunjukan bahwa jauh sebelumnya, Gunung Ciremai dikenal sebagai gunung berapi, dan pada jaman hidup Sena dan Sanjaya kemungkinan besar masih menunjukan keaktifannya yang serius. Perkataan marapi atau merapi barulah diartikan terhadap kenyataan itu. Marapi artinya mengandung api atau mengeluarkan api.
Di Indonesia sendiri, hanya ada dua gunung berapi yang diberi nama merapi, yaitu Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Gunung Marapi di Sumatra Barat dekat Padang. Karena kondisi inilah, pada masa Sena dan Sanjaya juga masa Carita Parahiyangan, Gunung Ciremai dikenal sebagai gunung berapi atau “merapi”. Istilah tersebut sebaiknya tidak diidentikan dengan Gunung Merapi di Jawa Tengah, tetapi sebaiknya diartikan berdasarkan sifatnya.  
Tidak banyaknya identifikasi nama-nama tokoh dalam Carita Parahiyangan, menimbulkan keraguan. Nama Sannaha yang menurut Prasasti Canggal sebagai ibu dari Sanjaya, tidak disebut dalam Carita Parahiyangan. Perlu juga disadari bahwa perbedaan waktu yang sangat jauh antara tahun prasasti (732 Masehi) dengan ditulisnya Carita Parahiyangan tersebut yang diperkirakan ditulis pada akhir abad ke 16 Masehi memang menimbulkan pro dan kontra.[5]
Carita Parahiyangan juga menyebutkan berulang kali, bahwa dalam waktu yang hampir bersamaan dengan masa Sanjaya, di daerah Kuningan Jawa Barat terdapat sebuah Kerajaan bernama Sang Wulan Sang Tumanggal Sang Pandawa di Kuningan. Mungkin juga nama-nama yang disebutkan didepannya itu merupakan nama-nama raja. Yang memerintah dikala itu adalah tohaan Sang Seuweukarma atau Rahiyangtang Kuku  menjadi raja di Kuningan dan berpusat di Arile, kemudian di Saunggalah. Sayangnya, letak Arile dan Saunggalah hingga kini belum diketahui secara pasti. 
Kembali mengenai keluarga Sanjaya[6]. Selagi kecil ia bernama Rakean Jambri. Ia adalah cucu raja Galuh yang bernama Rahiangtang Mandiminyak. Disebutkan pula  bahwa Rahiangtang Mandiminyak ialah anak Rahiangtang Menir. Saudara Mandiminyak semuanya adalah dua orang.
Yang sulung bernama Rahiangtang Sempakwaja, bergelar Batara Dangiang Guru di Galunggung, yang kedua bernama Rahiangtang Kidul bergelar Batara Iyang Buyut di Denuh dan terakhir adalah Rahiangtang Mandiminyak sendiri yang menjadi raja di Galuh. Selaku raja Galuh, ia menggantikan Rahiangtang Rawunglangit yang memerintah di Galuh selama 60 tahun.
Dari hubungan gelapnya dengan Pwah Rababu istri Rahiangtang Sempakwaja, Mandiminyak memperoleh seorang putra yang karena hasil perbuatannya yang tidak sah itu dinamakan Sang Salah. Kemudian anak inilah yang bergelar Sang Sena. Sempakwaja dari Pwah Rababu mempunyai dua orang putra, yaitu Rahiyangtang Purbasora dan Rahiang Demunawan.  
Sang Sena menggantikan ayahnya Mandiminyak menjadi raja Galuh selama 7 tahun. Pada masa pemerintahan Sang Sena ini, timbul perebutan kekuasaan yang dipimpin oleh putra Sempakwaja yaitu Pubasora. Pada hakekatnya kedua orang tersebut berdarah satu ibu, yaitu tetesan Pwah Rababu dan merupakan saudara misanan melalui ayahnya masing-masing. Sementara perebutan kekuasaan dapat dilakukan, Sang Sena kemudian dibuang ke sebuah tempat yaitu gunung “merapi”.
Di tempat itulah seperti telah disebutkan tadi, Sang Sena memperoleh putra selama dalam pengasingannya. Putra itu bernama Rakean Jambri alias Sanjaya. Setelah dewasa ia berhasil merebut kekuasaan dari tangan Purbasora, kemudian Sanjaya menjadi raja Galuh dan banyak melakukan penaklukan terhadap kerajaan yang dahulunya adalah kerajaan bawahan Raja Sena yang tidak mau tunduk lagi kepadanya.[7]
Dua buah prasasti penting lainnya yang dapat membantu untuk melengkapi sumber yang telah ada dalam merekonstruksi jati diri Raja Sanjaya, yang pertama  adalah Prasasti Sankhara[8] (koleksi Bpk. Adam Malik). Prasasti itu berisi keterangan bahwa Raja Sankhara telah meninggalkan kebaktian yang lain-lain, juga terhadap Siwa, setelah ia merasa takut kepada gurunya yang tidak benar (anrtaguru bhayas) yang rupa-rupanya telah membuat ayahnya sakit dan wafat.
Sebab di dalam bait sebelumnya dikatakan bahwa ayahnya itu berjanji untuk melaksanakan apa yang telah dikatakan oleh sang guru, karena ia memang mau taat kepadanya. Raja Sankhara kemudian membangun sebuah prasada yang indah, karena ingat akan janjinya sendiri. Dalam bait terakhir pujian terhadap Bhiksu Sanggha. Pujian inilah yang membayangkan kepada kita bahwa Raja Sankhara itu lalu menjadi penganut agama Buddha.
Prasasti kedua, yaitu Prasasti Wanua Tengah (III) tahun 785 Saka atau 10 Juni 863 M.[9] yang ditemukan didaerah Kedu, Jawa Tengah. Prasasti tersebut merupakan prasasti peringatan tentang penetapan daerah sima yang dilakukan oleh Rakai Pikatan Pu Manuku, sedang yang menjadi raja ialah Rakarayan Kayuwangi pu Lokapala.
Yang menarik dari prasasti ini, ternyata pada bagian awalnya menerangkan sebuah silsilah bahwa Rakai I Hara beragama Siwa dan memiliki anak bernama Rakai Panaraban. Adanya nama Rakai Panaraban dalam Prasasti Wanua Tengah (III) mengingatkan kita pada Carita Parahiyangan dan Kropak 406. Rakai I Hara yang disebutkan didalamnya juga sangat mungkin tokoh yang sama dengan ayah Raja Sankhara dalam Prasasti Sankhara.
Selanjutnya, agar jelas, maka akan kita lihat nama-nama raja-raja yang memerintah di Galuh dan silsilah keluarga Sanjaya menurut Carita Parahiyangan, pada skema berikut ini:
X
Rahiyangtang Menir
_________________
X
Rahiyangtang Kidul
(raja di Denuh)

                      X                                          X                                                       X
Rahiyangtang Sempakwaja     +      Pwah Rababu           +          Rahiyangtang Mandiminyak
    (Raja di Galunggung)                                                                            (raja Galuh)

          X                                                              X
   Purbasora                                               Demunawan
  (raja Galuh)                  
                                                                                                   X
                                                                                                          Sang Sena
                                                                                                 (raja Galuh)
__________________________________________
           X                                                    X
    Seweukarma                                    Sanjaya
(raja di Kuningan)                            (raja Galuh)


            Apabila identifikasi tokoh-tokoh itu harus juga dilakukan, maka menurut prasasti Canggal Sanjaya adalah putra Sannaha saudara perempuan Sanna. Orang yang disebut belakangan inilah yang diidentikan dengan tokoh Sang Sena, raja Galuh, menurut Carita Parahiyangan. Hubungan kekeluargaan menurut prasasti itu sebagai berikut:
       X                                                               X
     Sanna                                                         Sannaha

                                            X
                                                      Sanjaya

            Kemudian apabila kedua skema yang tertera diatas dihubungkan satu sama lain, akan dapat dihubungkan berdasarkan suatu anggapan, bahwa nama Sannaha adalah putri Raja Mandiminyak dari Parameswari. Sedangkan Sena adalah putra Mandiminyak dari Pwah Rababu sebagai hasil hubungan gelap. Dengan demikian kemungkinannya adalah bahwa Sanna atau Sena dengan Sannaha saudara satu ayah.
 Pada suatu ketika, mereka berdua mengadakan hubungan perkawinan yang dimungkinkan karena berbeda ibu, dan dari perkawinan itulah lahirnya Sanjaya. Berdasarkan uraian ini, maka sekarang dibuat garis kekeluargaan dari dua sumber pemberitahuan (Prasasti Canggal dan Carita Parahiyangan) ditambah anggapan tersebut, dengan skema sebagai berikut:





Skema 1,2,3: diadaptasi dari  Sejarah Daerah Jawa Barat, Depdikbud, 1979.


            Saleh Danasasmita dalam hal ini menerangkan bahwa: “Secara logis, Mandiminyak sebagai raja tentu mempunyai permaisuri. Dari Permaisuri tersebut, lahirlah seorang puteri. Dialah puteri mahkota yang dalam Prasasti Canggal disebut sebagai Sannaha, saudara perempuan Raja Sanna. Tegasnya: Sanna menjadi raja atas nama isterinya. Sanjaya sebagai raja memang meneruskan Sanna, akan tetapi hak waris mahkota diperoleh dari ibunya.
            Perkawinan Sena dengan Sannaha adalah perkawinan politik. Menurut ‘adat’, Sena harus dianggap sebagai anak Sempakwaja (walaupun tidak diakui), karena Rababu adalah isteri sah Semapakwaja. Inilah salah satu sebab pemberontakan Purbasora. Sekiranya permaisuri melahirkan seorang putera, tentu akan diberitakan dalam Carita Parahiyangan dan pengganti Mandiminyak tentu bukan Sena.” [10] Berikut ini adalah hasil rekonstruksi Saleh Danasasmita tentang silsilah Rahiang Banga: 





               
Untuk memperjelas gambaran, baiklah kita lihat beberapa keterangan dari sumber lontar sebagai naskah yang kedua yaitu Kropak 406.[11] Menurut kropak 406, pendiri keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati adalah Maharaja Tarusbawa. Ia disilihkan (digantikan) oleh Maharaja Harisdarma. Harisdarma miseuweukeun (berputera) Tamperan. Tamperan miseuweukeun Rahyang Banga.[12] Menurut Carita Parahiyangan, Tamperan (Panaraban, pen.) adalah putera Sanjaya. Cukup jelas bahwa tokoh Sanjaya dalam Carita Parahiyangan identik dengan Harisdharma dalam kropak 406.
Menarik perhatian pula perkataan disilihkan (digantikan), bukan perkataan miseuweukeun (berputera), untuk tokoh Tarusbawa oleh Harisdarma alias Sanjaya. Hal ini membuktikan bahwa Harisdarma atau Sanjaya bukanlah putera Tarusbawa. Sanjaya mewarisi kerajaan bukan karena hubungan genealogis, melainkan karena hubungan darma (hukum).[13] Tegasnya, Sanjaya adalah menantu Tarusbawa.
Dalam Carita Parahiyangan, disebutkan bahwa mertua Sanjaya adalah Tohaan di Sunda, sedangkan alas (daerah) Tohaan di Sunda disebutkan dari Citarum ke barat. Tidaklah terlalu fantastis jika kita menarik kesimpulan bahwa tokoh Tohaan di Sunda dalam Carita Parahiyangan identik pula dengan tokoh Tarusbawa[14] dalam kropak 406. Dengan demikian, dapatlah terungkap sedikit misteri sumber Portugis dan Majapahit yang selalu menyebut kerajan Sunda (tidak pernah menyebut kerajaan Pajajaran).
            Kropak 406 menyebutkan pula peristiwa perpindahan Raja Darmasiksa dari Saunggalah ke Pakuan. Menurut Carita Parahiyangan, Saunggalah berada di Kuningan, sedangkan Darmasiksa disebutkan sebagai pangupatiyan (penjelmaan) Wisnu. Jelas pula dalam kedua sumber tersebut bahwa Darmasiksa adalah keturunan Banga dan pendahulunya Sri Baduga. Perlu pula diperhatikan bahwa cerita dalam kropak 406 diakhiri (ditutup) pada tokoh Darmasiksa. Kesimpulannya: naskah ini merupakan peningglan dari masa Darmasiksa atau sedikitnya merupakan salinan darinya.[15]




[1]   Drs. Atja, Tjarita Parahiyangan, Bandung, 1969, hal. 5.
[2]   Prof. Dr. R.M.Ng. Poerbatjaraka, Riwayat Indonesia I, Jakarta, 1952.
[3]     Sejarah Daerah Jawa Barat, Jakarta, 1979, hal. 50
[4]       D.G. Stibe, Encyclopedie van Nederlandsch Indie, Verde Deel, s’Gravenhage-Martinus Nijhof, 1922,    hal. 370., Ibid, hal. 50.
[5]   Drs. Atja, 1966, op.cit., hal. 19.
[6]   Sejarah Daerah Jawa Barat,  1979, op.cit., hal. 51-53.
[7]  Carita Parahiyangan menyebutkan bahwa Sanjaya bahkan menaklukan Malayu, Khmer, dan Cina. Namun, mengingat bahwa nilai historis dari naskah tesebut masih dipertanyakan maka hal ini diragukan. Lihat pembahasan ini dalam Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, op.cit., hal. 102.
[8]       Ibid., hal. 103, 104 dan 109, Poerbatjaraka mempercayai bahwa Raja Sankhara dalam prasasti ini tidak lain adalah Rakai Panangkaran yang disebut setelah Raja Sanjaya dalam daftar nama raja pada prasasti Mantyasih, mungkin nama lengkapnya adalah Rakai Panangkaran Dyah Sankhara Sri Sanggramadhananjaya. Lihat juga Supratikno Rahardjo, Religi Dalam Dinamika Masyarakat, 2005, Bandung, hal. 68.
[9]   Penulis sangat berterima kasih kepada Bapak Achmad Iriady, dosen pada Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS-UPI Bandung  yang telah memberikan masukan agar digunakan pula Prasasti Wanua Tengah III dalam tulisan ini. Lihat juga Marwati Djoened…Ibid., hal. 116.
[10]     Saleh Danasasmita, “Ya nu Nyusuk na Pakuan”, dalam Seri Sundalana vol.5: Mencari Gerbang Pakuan, Pusat Studi Sunda; Bandung, 2006, hal. 41. Nama yang bertanda kurung = nama menurut kropak 406.
[11]    Pusat Studi Sunda.
[12]    TBG LIII (1911), hal. 297 dalam Seri Sundalana…Ibid.,  hal. 17,18.
[13]     Menurut Poerbatjaraka, gelar darma biasanya menunjukan hubungan waris karena hukum dalam kedudukan sebagai menantu Ibid.
[14]    Di daerah Kebon Kopi, Bogor, Jawa Barat ditemukan Prasasti Rakeyan Juru Pangambat, menggunakan bahasa Melayu kuno dan huruf Jawa kuno dengan candrasangkala; Kawihaji Panca Pasagi yang sama dengan 854 S / 932 M. dalam prasasti ini menyebut; “…ba (r) pulihkan parahijan sunda…” yang artinya “…memulihkan kekuasaan raja sunda…” (Pleyte,1914: 257-280), kekuasaan raja yang dipulihkan adalah raja Tarumanagara ke-12 (terakhir) yaitu Linggawarman dimana Tarumanagara runtuh pada akhir abad ke-7 M. karena tidak mempunyai putera mahkota sehingga  Kerajaan Tarumanagara tidak disebut lagi dalam berita Cina sejak tahun 669 M., yang memulihkan (meneruskan kekuasaan) adalah Tarusbawa salah seorang menantu Linggawarman dan mendirikan Kerajaan Sunda (Atja & Ayatrohaedi, 1986: 157,227), lihat juga pembahasan lebih lanjut dalam Edi S. Ekadjati, Kebudayaan Sunda Jilid I hal. 1-3 dan jilid II Bab III, lihat juga Kresno Yulianto (ed), Tradisi Makna Dan Budaya Materi, 2004, Bandung, hal. 35,36.
[15]    Op. Cit., Seri Sundalana.
D. Beberapa Kelemahan Teori Para Ahli
Pandapat J.L. Moens yang mengatakan bahwa Sanjaya berasal dari Kunjarakunjadesa yang terdesak oleh Sriwijaya dan pindah ke Pulau Jawa itu memiliki kelemahan, karena tidak berdasarkan fakta yang kuat. Penyebutan nama daerah di India Selatan itu, terang hanya sebuah penganalogian. Seperti kita ketahui bahwa penganalogian seperti itu sering digunakan pada masa kuno di Indonesia.
Sebagai contoh: dalam Prasasti Tugu dari jaman Tarumanagara, disebutkan dua nama sungai terkenal di Panjab (India Utara) yaitu Candrabagha dan Gomati,[1] namun ternyata kedua sungai yang digali itu terdapat di Pulau Jawa. Dan ini bisa dijadikan pegangan dalam masa Sejarah Kuno Indonesia untuk pembuktian.
Penganalogian tersebut diperlukan untuk memperkuat legitimasi spiritual sebuah peristiwa atau hal apapun yang akan dilakukan oleh para penguasa sehingga mendapat dukungan dari rakyat. Karena penganut Hindu di dunia berkiblat ke India, dengan sendirinya nama-nama tempat yang dianggap keramat pun akhirnya digunakan juga di daerah yang terpengaruh oleh proses Indianisasi, termasuk di Indonesia.
Selain itu, nama Yawa-Dwipa yang oleh Moens dianggap sebagai  awal dari nama asli Semenanjung Malaya, terang sekali memiliki kelemahan. Jika kita berpedoman pada Kitab Ramayana, Yavadwipa yang dikatakan sebagai Pulau Perak memang digunakan untuk menyebut Pulau Jawa yang dikatakan telah dihiasi oleh tujuh kerajaan (?).
Juga kitab Geographike Hypegesis karya Ptolomeus itu menyebut Argyre Chora (negeri perak) dan menyebut sebuah tempat yaitu Iabadiou (Pulau Jelai). Yawa adalah bahasa Sansekerta untuk jelai. Diou adalah diwu dalam bahasa Parkit-nya dan dwipa dalam bahasa Sansekerta, artinya pulau. Jadi, Iabadiou = Yawadwipa.[2]
Sangat jelas bahwa kata Yawa-dwipa atau dwipa-Javakya dalam Prasasti Canggal ditujukan kepada sebuah pulau, dan susunan kata-kata itu memang benar. Artinya, nama Yawa maupun Javakya selalu dibarengi oleh kata dwipa baik didepan atau dibelakangnya yang menunjukan arti pulau. Dari situ, timbulah pertanyaan kecil geografis; dapatkah semenanjung disamakan dengan pulau?

Tentang nama Kunjarakunja itu, Poerbatjaraka pernah mengemukakan pendapat bahwa yang dimaksud dengan daerah itu ialah daerah Sleman sekarang, berdasarkan arti kata “Kunjara”, yaitu hutan gajah, dan adanya daerah wanua ing alas i Saliman di dalam tiga prasasti pada batu sima.[3]
Pendapat itu sekarang diragukan kebenarannya, karena nama daerah di dalam ketiga prasasti tersebut -sekarang ditambah dengan dua lagi batu sima yang memuat nama daerah itu- harus dibaca wanua ing alas i  Salimar (pakai -r-, pen.). Lagi pula kata kunjarakunja dapat juga berarti Ficus Religiosa atau hutan pohon bodhi dan sejenisnya, karena kata kunjara tidak hanya berarti gajah, tetapi nama beberapa jenis pohon, antara lain pohon bodhi (Ficus Religiosa).[4]
Menurut Slamet Mulyana, dalam Piagam Canggal, Sanjaya menyebut nama tempat Kunjarakunja, penyebutan itu menunjukan adanya hubungan antara wangsa Sanjaya dan India Selatan dalam soal agama (India Selatan = pusat agama Siwa kala itu), atau mungkin sekali juga asal usul nenek moyangnya. Pada masa pemerintahan rajakula Sailendra, termasuk Rakai Panangkaran yang menyebut dirinya hiasan rajakula Sailendra, hubungan agama itu tidak dengan India Selatan tetapi dengan Benggala.
 Pada Piagam Kelurak dari tahun 782, terbukti bahwa upacara pembukaan arca manjusri dipimpin oleh Sailendrarajagur Kumaragosha dari Gaudadwipa. Hubungan agama di Jawa dan Sumatera pada masa pemerintahan rajakula Sailendra terutama dengan Benggala sebagai pusat agama Buddha Mahayana. Kumaragosha adalah seorang pendeta Buddha dari Benggala.[5]
Slamet Mulyana pun tampaknya terjebak dengan konsepsi yang dikeluarkan oleh Moens bahwa nenek moyang Sanjaya berasal dari Kunjarakunjadesa di India Selatan. Kunjarakunja menurut hemat penulis, lebih tepat bila dianggap berdasarkan fungsinya sebagai pusat agama Siwa bukan sebagai tempat asal dari sebuah keluarga.
Mengenai tokoh Sailendrarajagur Kumaragosha dalam Piagam Kelurak pun, tampaknya harus dianggap bahwa wangsa Sailendra yang beragama Buddha memang memiliki hubungan keagamaan dengan Benggala, dan tokoh tersebut merupakan guru yang didatangkan dari daerah tersebut, jadi tidak harus diartikan bahwa Sailendra juga berasal dari India. 
Mengenai Piagam Gata (771 M) yang menyebut nama Sri Maharaja Daksottamabahubajra dan Piagam Taji Gunung (772 M) yang menyebut Mahamantri Rakryan Gurunwangi, kedua prasasti tersebut memang menggunakan tarikh Sanjaya (Sanjayawarsa). Slamet Mulyana meyakini bahwa Raja Daksottamabahubajra adalah keturunan Sanjaya yang berhasil dikalahkan oleh Panangkaran dari wangsa Sailendra, sehingga tampak terlihat bahwa wangsa Sanjaya dikalahkan oleh wangsa Sailendra sejak tahun 772 Masehi, karena setelah tahun 772 tidak ada lagi raja Mataram yang mengeluarkan prasasti dengan menggunakan tarikh Sanjaya tersebut.
Semua itu masih diperdebatkan, namun Slamet Mulyana menganggapnya sebagai suatu kepastian. Apabila demikian, timbulah sebuah pertanyaan; mengapa Daksottamabahubajra tidak dimasukan kedalam Prasasti Kedu (Mantyasih), bukankah sangat jelas ia bergelar Sri Maharaja? Dan apakah benar tokoh Daksottamabahubajra beserta Mahamantri Rakryan Gurunwangi hidup sejaman pada masa Panangkaran?
Tafsir sejarah dari Piagam Gata dan Taji Gunung sangat penting, untuk mengetahui bagaimanakah proses penyerahan kekuasaan (transfer of authority) dari Sanjaya kepada Panangkaran, apakah terjadi secara damai seperti yang diberitakan dalam Prasasti Sankhara dan Kitab Carita Parahiyangan (tanpa disela oleh raja lainnya, baca: Sri Maharaja Daksottamabahubajrapratipaksaksaya Sri Tunggawijaya) atau terjadi secara kekerasan melalui penaklukan militer oleh Panangkaran terhadap Daksottamabahubajra raja keturunan Sanjaya seperti yang diinterpretasikan oleh Slamet Mulyana?
Mengenai hal itu, berikut ini adalah pembahasannya: sebuah berita Cina dari Dinasti Sung menyebut sebuah nama yaitu ta-tso-kan-hiung, yang oleh Boechari ditafsirkan dengan Daksa, saudara (raja) yang gagah berani. Daksa pada masa Raja Balitung menjabat sebagai Mahamantri I Hino atau putera mahkota namun ia bukan keturunan dari Rakai Watukura Dyah Balitung, melainkan dari Sanjaya.
Ia berhasrat untuk menjadi raja sebagai pewaris tahta yang berhak. Maka dari itu, ia mengeluarkan Prasasti Taji Gunung dengan menggunakan tarikh Sanjaya yaitu 194 Sanjayawarsa (21 Desember 910 / 911 M).[6] Setelah menjadi raja, ia mengeluarkan lagi satu prasasti juga dengan tarikh Sanjaya, yaitu Prasasti Timbangan Wungkal tahun 196 Sanjayawarsa (11 Februari 913 M).[7]
Penulis mengikuti pembacaan Sanjayawarsa dari L.C. Damais. Penjelasan perhitungan matematisnya, adalah sebagai berikut: Prasasti Taji Gunung (Prasasti Gata) bertarikh Saka 833 (911 M).[8] Sekarang, tahun Saka 833 dikurangi 194 Sanjayawarsa = 639 S (717 M). Prasasti Timbangan Wungkal (Prasasti Taji Gunung): tarikh Saka 835 (913 M), lalu 835 S lalu dikurangi 196 Sanjayawarsa = 639 S (717 M). Kedua prasasti ini mengacu kepada tahun 639 S (717 M) sebagai tahun awal bangkitnya Raja Sanjaya itu. Jadi pembacaan kedua prasasti tersebut oleh Slamet Mulyana kiranya kurang tepat.
Sekarang dapatlah ditarik benang merahnya bahwa Raja Daksa dan Mahamantri Rakryan Gurunwangi tidak hidup sejaman dengan Panangkaran tetapi dengan Rakai Watukura Dyah Balitung, dan proses penyerahan kekuasaan dari Raja Sanjaya kepada Rakai Panangkaran terjadi secara wajar, seperti diberitakan dalam Prasasti Sankhara dan Carita Parahiyangan.




[1]    Ibid.,  lihat pembahasan lebih lanjut hal. 41
[2]    Ibid., hal. 7.
[3]    Poebatjaraka, op. cit., hal. 1952. 57,58.
[4]       Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, op.cit., 1993, hal. 102. Lihat juga Poerbatjaraka, 1952, hal. 66.
[5]    Slamet Mulyana, 2005, op.cit., hal. 19.
[6]       Angka tahun ini dibaca oleh Brandes sebagai 694 Sanjayawarsa, yang diikuti oleh N.J. Krom dan Mulyana. Goris mengusulkan pembacaan 172 atau 174 Sanjayawarsa. Tetapi berdasarkan perhitungan unsur-unsur penanggalan L.C. Damais membacanya sebagai 194 Sanjayawarsa, yang sama dengan tahun 910 M (911 M)., sehingga dapat diketahui bahwa Sanjayawarsa dimulai pada tahun 717 M, yang mungkin merupakan tahun permulaan pemerintahan Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Lihat Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, 1993, op.cit., hal. 144,145.
[7]       O.J.O. (Oude Javansche Oorkonden), XXXVI. Brandes membaca angka tahunnya sebagai 693 Sanjayawarsa, yang diikuti oleh Krom dan Mulyana, sedang Goris membacanya 176 Sanjayawarsa, namun angka tahun 196 disini mengikuti pembacaan dari L.C. Damais., Ibid.
[8]    Catatan penulis: selisih tahun Saka dengan Masehi adalah 78 tahun (lebih tua tahun Masehi).
E. Hipotesis
Telah disebutkan bahwa tarikh Sanjaya dimulai pada tahun 717 M.  Ketika itu Raja Sanjaya bangkit untuk melanjutkan kerajaan ayahnya (Sanna) yang telah hancur diserang musuh. Selama kurun waktu dari 717 M hinggga 732 M, Sanjaya melakukan ekspedisi penaklukan keberbagai daerah, termasuk ke timur (Jawa Tengah).
Hal ini dilakukan karena kerajaan-kerajaan bawahan pada masa Sanna telah memerdekakan diri ketika tahu bahwa Raja Sanna telah berhasil ditaklukan oleh musuhnya itu. Maka, pada tahun 732 M. setelah kerajaan-kerajaan yang dahulunya merupakan kerajaan bawahan ayahnya telah berhasil ditaklukan kembali, segeralah Sanjaya mendirikan kerajaan baru lengkap dengan istana dan candi Siwa (Prasasti Canggal) di Medang wilayah Pohpitu.
Hipotesis yang akan diajukan dalam tulisan ini adalah: Sanjaya merupakan seorang raja berdarah Indonesia asli yang berasal dari Tatar Sunda. Ia mendirikan kerajaan Medang di Jawa Tengah karena kerajaan dan istana warisan ayahnya telah hancur diserang musuh maka ia mendirikan kerajaan baru di Pohpitu.
Dalam waktu yang relatif bersamaan (awal abad ketujuh Masehi) di Jawa Tengah bagian utara muncul Dapunta Sailendra (Prasasti Sojomerto)[1] dan pada perkembangannya kemudian bentrok kekuasaan dengan Raja Sanjaya. Maka dari itu dilakukanlah perkawinan politik. Ini baru sebuah dugaan bahwa Raja Sanjaya pernah menikahi seorang Puteri keturunan Sailendra yang sampai sekarang kita tidak tahu namanya, dan dari hubungan keluarga itulah lahirnya Rakai Panangkaran.
Slamet Mulyana keberatan bahwa Panangkaran adalah putera Sanjaya, karena dalam prasasti yang pernah dikeluarkan olehnya tidak pernah menggunakan tarikh Sanjaya. Menurut hemat penulis, hal seperti itu tidak perlu dipermasalahkan, karena Rakai Pikatan yang seorang turunan Sanjaya-pun bahkan tidak pernah menggunakan tarikh Sanjaya. Jadi sangat jelas bahwa tarikh Sanjaya hanya digunakan oleh Daksa pada masa Balitung sebagai alasan, karena memerlukan legitimasi untuk menunjukan bahwa ia adalah keturunan Sanjaya guna mencapai kekuasaan dalam menggantikan Raja Balitung.
Pada Prasasti Kedu sudah sudah jelas Panangkaran disebut setelah Sanjaya. Pada Prasasti Sankhara disebutkan bahwa Panangkaran telah menjadi penganut ajaran Buddha dan melepaskan agama Hindunya. Juga dalam Prasasti Wanua Tengah (III) yang menyebut nama Rakai I Hara yang beragama Siwa memiliki anak yaitu Rakai Panaraban, ini sesuai dengan isi Prasasti Sankhara, Carita Parahiyangan dan kropak 406.
 Dalam Carita Parahiyangan pun dikisahkan bahwa Rahiyang Sanjaya menyuruh anaknya Rahiyangta Panaraban untuk tidak menganut agama yang dianutnya karena takut pada gurunya yang tidak benar, karena itulah ia menjadi penganut ajaran Buddha Mahayana dan menumbuhkan Sailendrawangsa.[2]
Kenapa Sailendra yang dijadikan sebagai wangsa di Mataram pasca wafatnya Sanjaya oleh Panangkaran? Penulis berpendapat demikian: Seruan kepada keluarga Sanjaya yang beragama Siwa untuk beralih kepada Buddha Mahayana gagal dilakukan oleh Panangkaran pasca wafatnya Raja Sanjaya. Ia pun lalu menghimbau agar keluarga Sailendra yang beragama Siwa, juga beralih agama ke Buddha Mahayana.
Himbauan kepada keluarga Sailendra untuk menganut ajaran Buddha Mahayana ternyata berhasil dilakukan oleh Panangkaran, karena sejatinya keluarga Sailendra berasal dari Sriwijaya yang pada saat itu dikenal sebagai pusat agama Buddha di Asia Tenggara, dengan demikian tidaklah aneh kiranya bila Panangkaran selanjutnya disebut sebagai perhiasan wangsa Sailendra dalam Prasasti Kalasan.




[1]       Isi Prasasti Sojomerto: Dapunta Selendra penganut agama Siwa, Santanu nama ayahnya dan Bhadrawati nama ibunya, serta istrinya yang bernama Sampula. Karena prasasti ini berbahasa Melayu kuno dan tokoh Selendra bergelar “dapunta”, yang sama dengan gelar raja Sriwijaya dalam Prasasti Kedukan Bukit dan Prasasti Talang Tuwo yaitu Dapunta Hyang Srijayanaga (ca), maka banyak ahli meyakini bahwa Dapunta Selendra adalah asli Indonesia, berasal dari Sumatera, sangat mungkin dari Sriwijaya, lihat Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, 1993, op.cit., hal. 91.
[2]       Pengalaman buruk inilah yang mungkin membuat Panangkaran lebih condong kepada wangsa Sailendra dari pihak ibunya. Masa yang lebih lampau, dalam sejarah Asia Selatan, hal yang demikian pernah terjadi meski latarbelakangnya berbeda, yaitu lahirnya dinasti Maurya oleh Candhragupta, anak raja Nanda ini tidak menggunakan nama ayahnya untuk meneruskan wangsa setelah berhasil mengkudeta Nanda, namun dari nama ibunya yaitu Mura selir dari Raja Nanda berkasta Sudra karena ketidaksukaannya terhadap Nanda. Lihat; Abu Suud, Memahami Sejarah Bangsa-Bangsa Di Asia Selatan, Jakarta, 1988, hal. 136-139.